Pemerintah Suriah menghadapi dinamika fiskal baru seiring kembalinya Raqqa, Hasakah, dan Deir Ezzour ke dalam struktur administrasi negara. Perubahan wilayah efektif ini memunculkan pertanyaan krusial terkait kebijakan anggaran negara, khususnya apakah Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) perlu direvisi di tengah tahun berjalan atau tetap menggunakan kerangka APBN lama hingga tahun berikutnya.
Dalam praktik keuangan publik, masuknya wilayah baru tidak otomatis memaksa perubahan APBN yang sedang berjalan. Banyak negara memilih mempertahankan anggaran yang telah disahkan, sambil menyiapkan mekanisme anggaran tambahan atau belanja darurat untuk menjembatani kebutuhan mendesak di wilayah yang baru terintegrasi.
Di Suriah, opsi yang paling realistis secara prosedural adalah penyusunan anggaran tambahan. Skema ini memungkinkan pemerintah menambahkan alokasi belanja tanpa membongkar struktur APBN yang telah disetujui parlemen, terutama di tengah tahun fiskal.
Raqqa, Hasakah, dan Deir Ezzour bukan provinsi kecil. Ketiganya memiliki kebutuhan besar, mulai dari gaji aparatur sipil, layanan dasar, hingga rehabilitasi infrastruktur yang rusak akibat konflik panjang. Tekanan belanja di wilayah ini bersifat langsung dan tidak bisa ditunda terlalu lama.
Namun di sisi lain, potensi penerimaan negara juga ikut berubah. Hasakah dan Deir Ezzour dikenal sebagai kawasan strategis sumber energi dan pertanian. Jika pemerintah pusat mampu mengamankan rantai produksi dan distribusi, maka wilayah ini berpeluang menambah basis pendapatan negara dalam jangka menengah.
Masalahnya, manfaat fiskal tersebut tidak serta-merta dirasakan pada tahun berjalan. Proses normalisasi administrasi, pendataan pajak, dan pemulihan produksi membutuhkan waktu. Artinya, pada tahap awal, beban belanja cenderung lebih besar daripada tambahan pendapatan.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah Suriah secara rasional akan mempertahankan APBN yang ada hingga akhir tahun. Intervensi anggaran kemungkinan dilakukan melalui pos cadangan, bantuan luar negeri, atau realokasi terbatas antar-kementerian.
Situasi ini membuat tahun anggaran berikutnya menjadi sangat penting. APBN 2026, misalnya, hampir pasti harus mencerminkan perubahan peta administratif dan demografis yang lebih luas. Basis pengeluaran negara otomatis melebar, seiring bertambahnya jumlah penduduk yang harus dilayani secara resmi.
Secara nominal, APBN tahun berikutnya hampir dapat dipastikan lebih besar. Penambahan provinsi berarti penambahan gaji pegawai, anggaran kesehatan, pendidikan, keamanan, dan infrastruktur. Kenaikan ini bersifat struktural, bukan sementara.
Namun membesarnya APBN tidak selalu berarti kondisi fiskal lebih longgar. Justru tekanan terhadap keuangan negara berpotensi meningkat jika pertumbuhan pendapatan tidak sejalan dengan lonjakan belanja.
Pemerintah akan dihadapkan pada dilema klasik negara pascakonflik: antara mempercepat layanan publik demi legitimasi politik atau menjaga stabilitas fiskal agar inflasi dan defisit tetap terkendali.
Jika ketiga provinsi tersebut cepat pulih secara ekonomi, tekanan fiskal dapat berangsur berkurang. Produksi minyak, gandum, dan perdagangan lintas wilayah berpotensi menjadi penopang utama kas negara.
Sebaliknya, jika proses integrasi berjalan lambat atau terganggu faktor keamanan, APBN justru akan menanggung beban jangka panjang. Subsidi dan belanja sosial bisa membengkak tanpa diimbangi pemasukan memadai.
Dalam konteks inilah, reformasi tata kelola anggaran menjadi krusial. Transparansi, prioritas belanja, serta koordinasi dengan bantuan internasional akan menentukan apakah APBN Suriah mampu menyerap guncangan ini.
Langkah pemerintah menyiapkan anggaran dengan bantuan ahli internal dan eksternal menunjukkan kesadaran akan kompleksitas tantangan ini. Perencanaan fiskal tidak lagi bisa bersifat administratif semata, tetapi harus adaptif terhadap realitas politik dan wilayah.
Masuknya Raqqa, Hasakah, dan Deir Ezzour juga membawa pesan politik. Anggaran bukan sekadar angka, melainkan alat integrasi nasional. Cara pemerintah membiayai provinsi-provinsi ini akan memengaruhi kepercayaan publik terhadap negara.
Dalam jangka pendek, tekanan fiskal hampir tak terelakkan. Namun tekanan ini tidak selalu negatif jika dikelola sebagai investasi negara untuk stabilitas jangka panjang.
APBN tahun berikutnya berpotensi menjadi yang terbesar dalam satu dekade terakhir, baik dari sisi nominal maupun kompleksitas pengelolaan. Tantangannya bukan hanya soal besar-kecilnya angka, tetapi efektivitas penggunaannya.
Suriah kini berada di persimpangan antara pemulihan dan konsolidasi. Kebijakan anggaran akan menjadi indikator utama apakah negara ini mampu mengubah ekspansi wilayah menjadi kekuatan ekonomi, atau justru beban fiskal baru.
Pada akhirnya, masuknya tiga provinsi tersebut hampir pasti tidak mengubah APBN berjalan secara radikal. Namun dampaknya akan terasa penuh pada tahun anggaran berikutnya, ketika tekanan dan peluang fiskal bertemu dalam satu neraca nasional.
Baca selanjutnya