Typhoon Qatar untuk Turkiye

Januari 28, 2026
Rencana Turkiye untuk mengakuisisi pesawat tempur Eurofighter Typhoon dari Qatar memunculkan dinamika baru di kawasan, tidak hanya bagi Ankara dan Doha, tetapi juga bagi negara-negara mitra Turkiye seperti Somalia. Transaksi ini dinilai memiliki implikasi tidak langsung terhadap wacana hibah pesawat tempur lama F-4 Phantom II milik Turkiye ke Mogadishu.

Pembicaraan tiga pihak antara Turkiye, Qatar, dan Inggris disebut telah memasuki tahap krusial. Targetnya adalah pengalihan sekitar 20 unit Eurofighter Typhoon dari armada Qatar untuk memperkuat superioritas udara Turkiye dalam waktu relatif singkat.

Qatar sendiri dipandang berada dalam posisi surplus alutsista udara. Dengan armada modern yang mencakup Rafale, F-15QA, dan Eurofighter, kebutuhan operasional Doha dinilai telah melampaui kebutuhan pertahanan realistisnya.

Pilihan Turkiye terhadap jet Qatar didorong kondisi pesawat yang nyaris ideal. Jam terbang rendah dan perawatan intensif membuat Eurofighter tersebut siap operasional tanpa proses modernisasi yang panjang.

Bagi Turkiye, akuisisi ini strategis untuk menutup celah kapabilitas tempur udara di tengah proses pengembangan jet tempur nasional KAAN. Eurofighter diposisikan sebagai solusi antara sebelum platform generasi baru itu siap digunakan.

Masuknya Eurofighter ke inventaris Turkiye berpotensi mengubah komposisi armada udara nasional. Dengan jet yang lebih modern tersedia, pesawat-pesawat lama seperti F-4 Phantom II semakin terpinggirkan dari doktrin tempur utama.

Kondisi inilah yang kemudian dikaitkan dengan Somalia. Sejumlah analis menilai bahwa semakin cepat Eurofighter dioperasikan, semakin besar peluang F-4 dialihkan dari peran tempur aktif ke opsi hibah atau transfer ke negara mitra.

Somalia kerap disebut sebagai kandidat potensial. Negara di Tanduk Afrika itu tengah berupaya membangun kembali kemampuan militernya, termasuk wacana penguatan angkatan udara melalui hibah dari negara sahabat.

Di media sosial Turkiye, narasi tentang hibah F-4 ke Somalia semakin menguat. Pesawat tua tersebut dipandang masih memiliki nilai deterrence untuk menghadapi ancaman kelompok bersenjata dan separatis di Somalia.

Namun demikian, pengaruh kesepakatan Eurofighter terhadap rencana hibah F-4 tidak bersifat otomatis. Keputusan akhir tetap bergantung pada pertimbangan politik, teknis, dan finansial Turkiye.

Dari sisi teknis, F-4 memerlukan infrastruktur, pilot terlatih, serta sistem pemeliharaan yang tidak sederhana. Somalia harus memastikan kesiapan tersebut sebelum menerima pesawat jenis apa pun.

Sementara itu, Turkiye juga mempertimbangkan implikasi regional. Memberikan pesawat tempur, meski berusia tua, tetap memiliki dampak terhadap keseimbangan kekuatan di kawasan Tanduk Afrika.

Negara-negara tetangga Somalia diperkirakan akan mencermati langkah ini, meski peningkatan kemampuan udara Mogadishu lebih diarahkan untuk stabilitas internal ketimbang proyeksi kekuatan eksternal.

Di sisi lain, hibah alutsista dapat memperkuat posisi diplomatik Turkiye di Afrika. Somalia merupakan mitra strategis Ankara, baik secara militer maupun ekonomi.

Penguatan hubungan ini sejalan dengan kebijakan luar negeri Turkiye yang aktif memperluas pengaruhnya di Afrika Timur dan kawasan Laut Merah.

Bagi Qatar, penjualan Eurofighter ke Turkiye juga membawa dampak geopolitik tidak langsung. Dengan membantu Ankara memperkuat kekuatan udaranya, Doha ikut berperan dalam redistribusi alutsista di kawasan yang lebih luas.

Inggris, sebagai bagian dari konsorsium Eurofighter, dinilai melihat langkah ini sebagai upaya menjaga keberlanjutan platform Typhoon di negara sekutu NATO.

Dalam konteks Somalia, hibah F-4 akan lebih bersifat simbolis dan transisional. Pesawat tersebut dapat menjadi batu loncatan bagi Mogadishu menuju kemampuan udara yang lebih modern di masa depan.

Namun para pengamat menekankan bahwa alutsista saja tidak cukup. Reformasi sektor keamanan, pelatihan personel, dan stabilitas politik tetap menjadi faktor penentu efektivitasnya.

Dengan demikian, akuisisi Eurofighter oleh Turkiye memang membuka ruang bagi wacana hibah F-4 ke Somalia, tetapi bukan faktor penentu tunggal. Banyak variabel lain yang masih harus dipertimbangkan.

Yang jelas, pergerakan alutsista ini menunjukkan keterkaitan erat antara dinamika militer Timur Tengah dan Afrika. Setiap keputusan di satu negara dapat memunculkan efek berantai di kawasan lain.

Ke depan, apakah F-4 benar-benar akan terbang di langit Somalia masih menjadi tanda tanya. Namun satu hal pasti, kesepakatan Eurofighter Qatar–Turkiye telah mengubah peta opsi strategis yang tersedia bagi Ankara dan mitra-mitranya.

Share this

Related Posts

Latest
Previous
Next Post »